Friday, 15 December 2017
NEWS TICKER
IAIN Surakarta Buka Dua Jalur Pendaftaran SPMB »  Piye Kabare Bro…..Cermati Poster Yang Menyesatkan »  Siapa Sesungguhnya Bandoro Raden Ayu Roro Matah Hati »  Film Porno Artis Lokal Dikabarkan ada 8 Episode »  Daftar Peserta PLPG Tahap I Rayon UMS »  Agustus, 40 Mahasiswa UNS Ikuti KKN »  Harga Cengkeh Kering Mencapai Rp.115 ribu perkilogram »  Klaten : Puluhan Peluru Hampa ditemukan di sungai »  Lagi, Pos Polisi Kembali Diserang »  Bencana Alam Banjir dan Longsor di Wonogiri Kian Meluas »  Kementerian ESDM Tunjuk Pemkot Jadi Pilot Project PJU Pintar »  Hasil Mencuri Untuk Foya- Foya »  Lomba Lari 10 K Nasional Hari Jadi Wonogiri akan Melewati Waduk Gajah Mungkur »  Calon TKI Ujian EPS TOPIK PBT di UNS »  Jokowi Raih Dua Penghargaan »  Tahun 2014, UMK Solo Naik 25% »  Jelang Pilgub, KPU Gelar Sosialisai »  Demo Kenaikan BBM di Solo Ricuh »  Kesenian Tradisional Kethek Ogleng Ciri Khas Wonogiri »  Penegakan Hukum di Indonesia Masih Carut-Marut » 
 
Home » Soloraya Update » Cerita Sendang Slogohimo(2-Habis) “Gugon Tuhon mBelik Wungu”
SOLORAYA UPDATE

Cerita Sendang Slogohimo(2-Habis) “Gugon Tuhon mBelik Wungu”

Saturday, 15 July 2017 - 602 Views

Kun Prastowo, Masyarakat Slogohimo

INFOSOLORAYA.COM-WONOGIRI-Masih menurut Kun Prastowo, ada cerita rakyat yang melegenda di Desa Skogohimo tentang sisa-sisa cerita tentang belik atau sendang masih mengasyikkan untuk dibicarakan.

Ketika warga desa diujung timur Kabupaten Wonogiri tepatnya Desa Slogohimo dilontarkan nama “mBelik Wungu” maka akan langsung terlintas sebuah lokasi sumber mata air di bawah pohon wungu dan pohon ringin yang rindang di utara balai desa itu.

Belik itu menghadirkan aroma mistis yang demikian kental. Hal itu tidak terlepas dari gugon tuhon (kepercayaan) warga bahwa di belik itu dijaga oleh sosok mistis bernama Kyai Jo Menggolo.

Kyai Jo Menggolo disinyalir sebagai punden atau cikal bakal desa di lereng Gunung Braja itu.

Dahulu kala, Jo Menggolo adalah seorang agul-agul di Kadipaten Wengker (Ponorogo) yang selalu mwnegakkan kebenaran.

Sosok tinggi besar nan gagah itu bak Raden Wrekudara dalam dunia pewayangan. Bahkan dia demikian menhayati sifat satria Jodhipati itu.

Ajian Ungkal Bener menjadi prinsip hidupnya. Ajian Raden Wrekudara itu senantiasa mengedepankan kebenaran dalm setiap sisi tingkah laku.

Cinta Suci Syahdan, Jo Menggolo muda memiliki seorang kekasih hati bernama Satiti dan mereka bersepakat untuk membangun rumah tangga.

Namun, nasib bercerita lain. Cinta mereka harus dipisahkan karena Satiti dipersunting seorang Bekel.

Rasa sakit hati yang mendera membuat Jo Menggolo menuju kota kadipaten dan menjadi prajurit.

Seiring perjalan waktu, Jo Menggolo menjadi sapu kawat atau agul-agul di Kadipaten Wengker karena ketekunan dan kemampuan olah kanuragan yang mumpuni.

Demikian juga pangkat suami Satiti yang semula hanya sorang Bekel kini menjadi punggawa di Kadipaten Wengker.

Jo Menggolo dan Satitipun suatu waktu bertemu kembali. Walau masih memendam rasa cinta namun Jo Menggolo mengadari keadaannya.

Tidak demikian dengan Satiti, rasa cinta yang begitu mendalam ingin dirajut kembali. Berbagai upaya dilakukan Satiti untuk kembali mendapatkan cintanya, namun Jo Menggolo bersikukuh tidak bersedia menerima cinta itu

Sampai suatu ketika, Jo Menggolo mengeluarkan sepata, _”Satiti, cinta itu tidak dapat dipaksakan. Bahkan bila saat ini ada tujuh sosok Satiti dihadapanku aku tidak akan kengguh.

Biarlah cinta ini menjadi hak bagi tujuh Satiti itu dikesempatan waktu yang lain. Karena itulah bukti kedalaman cintaku kepada Satiti.”_

Akhirnya, Jo Menggolo memohon ijin kepada Bupati Wengker untuk meninggalkan kadipaten dan mengembara ke arah matahari terbenam.

Cerita cinta Jo Menggolo dan Satiti itu diyakini menjadi legenda bagi warga Desa Slogohimo.

Bahkan ada pihak yang meyakini bahwa sepata Jo Menggolo itu akan tumama di Desa Slogohimo. Akan ada tujuh cinta sejati untuk Satiti dari para kepala desa yang menjabat di Desa Slogohimo.

Desa Slogohimo akan mungkur dari masalah dan menjadi desa pinunjul setelah menghadirkan tujuh janda dari kepala desanya.

Belik Wungu, warna ungu diyakini sebagai warna janda.Sejak Poerwosuyoso, D Soetarto, Samadi dan Joko Batolo telah menyumbang lima orang janda. Akankah dubutuhkan dua orang janda lagi?

“Itu hanya gugon tuhon yang tentunya tidak akan bisa diterima oleh nalar kekinian dan tidak layak dipercaya,” kata Kun Prastowowarga Ngerjopuro Slogohimo(Zul)

Related Post