Saturday, 25 October 2014
NEWS TICKER
IAIN Surakarta Buka Dua Jalur Pendaftaran SPMB »  Piye Kabare Bro…..Cermati Poster Yang Menyesatkan »  Daftar Peserta PLPG Tahap I Rayon UMS »  Lagi, Pos Polisi Kembali Diserang »  Film Porno Artis Lokal Dikabarkan ada 8 Episode »  Agustus, 40 Mahasiswa UNS Ikuti KKN »  Klaten : Puluhan Peluru Hampa ditemukan di sungai »  Kementerian ESDM Tunjuk Pemkot Jadi Pilot Project PJU Pintar »  Hasil Mencuri Untuk Foya- Foya »  Harga Cengkeh Kering Mencapai Rp.115 ribu perkilogram »  Bencana Alam Banjir dan Longsor di Wonogiri Kian Meluas »  Siapa Sesungguhnya Bandoro Raden Ayu Roro Matah Hati »  Lomba Lari 10 K Nasional Hari Jadi Wonogiri akan Melewati Waduk Gajah Mungkur »  Calon TKI Ujian EPS TOPIK PBT di UNS »  Jelang Pilgub, KPU Gelar Sosialisai »  Jokowi Raih Dua Penghargaan »  Tahun 2014, UMK Solo Naik 25% »  Penegakan Hukum di Indonesia Masih Carut-Marut »  Demo Kenaikan BBM di Solo Ricuh »  Pengurus Baru HMI Cabang Sukoharjo Dilantik » 
 
Home » Foto » Pendidikan Karakter Sulit Masuk Kurikulum Nasional
FOTO

Pendidikan Karakter Sulit Masuk Kurikulum Nasional

Sunday, 7 April 2013 - 2354 Views

Kepala Bidang Pemuda Disdikpora 300x199 Pendidikan Karakter Sulit Masuk Kurikulum Nasional

Kepala Bidang Pemuda Disdikpora, Kelik Isnawan.

INFOSOLORAYA.COM – SOLO – Untuk menetapkan pendidikan karakter sebagai kurikulum nasional oleh pemerintah dinilai masih sulit. Pasalnya, sekolah mempunyai kewenangan tersendiri untuk menumbuh kembangkan pendidikan karakter sebagai visi school based management (manajemen berbasis sekolah). selain itu, MBS dipandang sebagai alternatif dari pola umum pengoperasian sekolah yang selama ini memusatkan wewenang di kantor pusat dan daerah.

MBS adalah strategi untuk meningkatkan pendidikan dengan mendelegasikan kewenangan pengambilan keputusan penting dari pusat dan dearah ke tingkat sekolah. Dengan demikian, MBS pada dasarnya merupakan sistem manajemen di mana sekolah merupakan unit pengambilan keputusan penting tentang penyelenggaraan pendidikan secara mandiri.

“kalau pendidikan karakter dimasukkan ke dalam kurikulum sendiri masih sulit. Soalnya, pendidikan karakter tidak memiliki materi khusus,” kata Kepala Bidang Pemuda Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikpora) Kota Solo Kelik Isnawan, usai memberikan paparan dalam acara Roadshow Duta Perdamaian di Hotel Arini Solo, Sabtu (6/4).

Ia mengatakan, pendidikan karakter dapat dilakukan melalui dengan ektrakurikuler dan menyisipkan atau memasukkannya ke dalam materi pembelajaran di sekolah. Namun, lanjut Kelik, pendidikan karakter itu hanya dipandang sebelah mata dan hanya digunakan untuk menyelasaikan soal-soal ujian. Sehingga, pendidikan karakter tidak berjalan seperti apa yang diharapkan sekolah.

“Yang menjadi kelemahan pendidikan karakter ini adalah kurangnya pemahaman dan pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga pendidikan karakter tidak berjalan secara efektif,” terangnya.

Lebih lanjut, Kelik mengatakan, untuk membiasakan pendidikan karakter itu, pihaknya saat ini berusaha memberikan pelatihan maupun diklat tentang pendidikan karakte dan pelatihan dasar kepemimpinan  (LDK) dengan melibatkan pelajar dan tenaga pendidik atau guru. Menurutnya, dengan menyelenggarakan pelatihan-pelatihan itu pendidikan karakter dapat tercipta dan tumbuh dengan baik. “Sebenarnya sekolah itu telah menyelenggarakan pendidikan karakter, seperti pendidikan agama, budi pekerti, dan pendidik kewarganegaraan,” terangnya.

Ia mengatakan, tidak bisa mengukur berapa jumlah sekolah yang berhasil dalam menyelenggarakan pendidikan karakter. Karena menurutnya, semua sekolah saat ini telah menyelenggarakan pendidikan karakter. Ia mencontohkan, SMPN 17 Solo sebagai sekolah yang berhasil melaksanakan pendidikan karakter. “Keberhasilan sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan karakter ini adalah prestasi ujian nasional (UN) yang terus meningkat setiap tahunnya, mengurangi angka kenakalan siswa, dan mengurangi kegagalan siswa dalam belajar,” jelasnya.(bib@infosoloraya.com)

Incoming search terms:

Related Post

Comment